| |
Setiap Kemarau, Dua Mata Air Kering | 31-12-2009
Memasuki musim kemarau, Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kota Batu mulai was-was. Sumber mata air diprediksikan akan menyusut, bahkan bisa jadi akan kering.
Kecemasan KLH itu sangat beralasan mengingat semakin berkurangnya hutan di sekitar sungai Brantas yang membuat debet sumber mata air berkurang.
Kepala KLH, Bambang Parianom, mencatat, sedikitnya selalu ada dua sumber mata air yang kering saat musim kemarau tiba. Padahal kebutuhan masyarakat Batu untuk air minum, mengaliri lahan pertanian serta peternakan terus bertambah.
“Baru memasuki masa pancaroba saja, dua mata air di aliran sungai Brantas sudah mulai mengering,” ungkap Bambang, Minggu (12/4). Berkurangnya sumber mata air saat musim kemarau jelas cukup mengkhawatirkan, apalagi jumlah mata air yang masih produktif di Kota Batu saat ini hanya 111 mata air. Jumlah ini terus berkurang seiring menyusutnya hutan di hulu sungai Brantas.
“Dari 111 itu sumber mata air terbanyak ada di Kecamatan Bumiaji. Untuk itu masyarakat Bumiaji diharapkan peduli akan kelestarian lingkungan di sekitarnya terutama masyarakat yang tinggal berdekatan dengan DAS Brantas,” harapnya.
Guna mencegah meluasnya mata air yang kering ini, KLH akan melakukan penyisiran ke DAS Brantas pada 24 mendatang. Di antaranya pemetaan daerah yang menjadi tempat pembuangan sampah, daerah sungai yang rawan longsor, serta daerah sungai yang memiliki banyak limbah, terutama limbah rumah tangga. “Hasilnya tingkat aliran air dari sumber mata air bisa diukur dengan baik. Sehingga Pemkot Batu dapat mengukur ketersediaan air bersih sepanjang musim, terutama musim kemarau,” beber Bambang.
Ditambahkan, KLH juga melibatkan masyarakat untuk menjaga kebersihan dan memelihara sumber mata air yang ada di kawasan mereka. “Kami juga akan bekerjasama dengan pecinta alam di Malang untuk penyusuran DAS Brantas nanti,” tandasnya.st11
Sumber: http://www.surya.co.id/ |